Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)

Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

Kemarin

(Tiga Oktober Dua Ribu Sepuluh)

Kita buka kembali dada dalam rangkulan sinar surya
bercengkrama bersama endapan secangkir kopi hangat
dan sebungkus nasi goreng
luruh serta dalam menelanjangi memorial kisah;
Tentang gemerisik angin mengurai titik-titik terlukis kerut di lipatan masa
tentang suka-duka cita silih berganti retas dari kanvas rahim ingatan
tentang segala bahasa kata yang belum sempat tersampaikan.

Lalu aku
kau
dan mereka
menguap dari endapan di jilat lidah samsara
biaskan lelap ketika fajar tak sudi jedah berputar
sambil berucap;
"Mari..! kita reguk nikmat dari secawan piala anggur di genggaman.."

Dan sumringahku masih menahan liur secangkir kopi pahit
yang mulai dingin di tenggorokan

Aku (Bukan) Kau, Ataupun Mereka

Andai tersibak lebih lebar tajamnya retina
akan ku gadaikan denyut jantung
untuk bisa kau sayat dengan ujung bilahnya
yang ruah dari legam bibirmu merupa beling

Agar dapat terlihat jelas gemericik hening
mengaliri anak-anak sungai di setiap labirin
menuju muara
sebab tidak semua laku dan rasa
mampu terbahasakan dengan semesta kata

Biarlah jemari halus kelembutan setiap hela
seirama angin mengelus rukuk ilalang rapuh
di bawah musim
meski senja meregang luka
mencumbu tikaman prahara di bawah surya

Karena tak seorangpun dapat memaksa
arah irama sayap suka-duka cita
ataupun mengeja noktah hitam ceceran uban
di samudera lautan
serta lalu menghitung pasir pantai
dengan menimbang-nimbang andai

Perjalanan

Banyak kalimat sungsang menggelinding di ranjang
hitam-hitam menyelindap pengap dari deretan almanak
gugur dari batangan hari yang mengunyah musim

Ketika dahan patah senggamai jaman di tanah basah
terhempas dalam lumpur debu penuh ular
anginpun menuding desis dengan arak-arakan halimun
saling sambar
gigilkan jisim dalam lamun
yang mengeja pelan judul demi judul kejayaan masa suram
sambil menjilati gerhana diam bersampul senyum

Pundak kelu
berderai peluh merunut abdi
merangkak ulang kembali terjal gemunung
dan mencumbu dinding-dinding sepi
serta tak jarang lembaran terkoyak di terpa ombak
gemetar
nanar
namun tak sudi harap merapuh di tengah belantara kasih
meski senjakala menyisakan luka tertikam prahara

PUING


  I/
Separuh bening wajah langit retak lelehkan hujan
menyapa kebun yang jenuh pada tanah meratap

Melewati kangkangan samsara duduk berdinding pengasingan
merenungi ratapan angin dan rintihan musim demi musim
dari jendela ke batas lembah-lembah ngarai;
tumpukan-tumpukan batu
serta reranting pohon tanpa daun terberai badai
menjelma jumlahan luka tanpa basuh
menusuk
serta angin mengeras

II/
Purnama luruhkan kabut di tanah basah
menyapu detak detik kebersamaan gugur dalam kesunyian
Dingin mengundang kelebat baying
mencibir dari birunya lautan
duduk merelung di sebuah pilar pualam
melepas pandang reruntuhan istana
ku bangun dengan tetes peluh dan airmata;

"Inilah sisa-sisa abadi untuk dapat kau pahami ;
tempat ku curahkan segala daya kelemahan
merengkuh terang cahya gemintang,
tempat ku lukiskan pemahaman akan segala kehidupan,
ketika bidadara-bidadari bergembira menari
dan bernyanyi irama kasih dan kerinduan,
meski manusia mendengar serta melihat tembang hymneku.
Dan pada sang waktu
yang begitu culah melebur remehkan segala usaha,
kutenggelamkan kekosongan
sisakan zarah cinta untukku.
Namun jauh di palung altar hati,
kan ku bangun perjamuan ishtar oleh kesucian abadi.
Serta mengeja kebijaksanaan dan kekuatan
dari kelemahan sejumlah kesalahan."

Malampun pulang menunggang angin
dengan lembaran buku hati ke pintu fajar
Rebahkan layang di pinggang bulan



Merajam Lirih

Ada noktah menghitam di dada surya seperti hari kemarin
terperangkap pucuk daun di dahan yang tinggi

Merupa tiang layar
menggoda angin yang tak berhembus

Aku telah berdiri di sini
sebelum derai hujan mengguyur bumi
dengan dunia yang memutar benak
pada masa mengitari
serta berharap ini untuk di akhiri
bukan hanya untuk merajam lirih

Seperti paus biru terdampar oleh air surut di musim semi
seperti unggas terbang terjerat jaring laba-laba
seperti raja buta yang jalang tertidur pulas di tahta keemasan
seperti burung camar yang patah pundaknya

Akulah sesuatu yang terperangkap
di dinding karang tinggi pada keluasan samudera
namun itulah jiwaku yang sedang merajai lirih

Belantara Akasia

I/
Cawan musim tumpahkan anggur untuk di reguk masa
ketika dedaunan gugur dari reranting kering tertiup angin
antara tembok-tembok langit di pintu senja

Pertikaian yang tak pernah terjembatani bahasa kata
merahimi musim lirih lebih perih dari perpisahan dengan rasa
atau selamat tinggal kepada segala yang kasat mata

Ranjang Ishtar hangus terbakar waktu
hasratmu bergelora di belahan bumi tak bersauh
sedang kesabaranku tertimbun di jalanan bersalju
dalam bisu sekeras batu
(15092010)

II/
Pergantian musim seperti cermin menelanjangi masa
bergeser dalam lingkar ruang tak berpintu dan berjendela
Ketika melupakan taman nirwana
sejak pertama luka tertorehkan
hingga mengalir lara di sungai deras memanjati bebukitan
telaga tempat mengguyur diri serta minum sepuasnya
sambil mengheret duka sebagai kegembiraan

Namun sisa cahya lukisan padam di jilat dingin kabut bisu
tinggalkan gumpalan gelap kehijauan
di tumpukan berbatu

Darah menggigil dingin yang kebaskan rasa
ketika serpihan cawan menyulam wajah
hadir setiap kejap retina
menunggang sepi tersumpal di rongga dada
(16092010)


III/
Tak inginku menjadi semakin gila
tanpa elusan tanganmu di dada
meski sedang bernyanyi bersama angin
berteriak pada pucuk dedaunan akasia
serta terkulai di belukar musim yang dingin
sebab lelah menyusuri jejak matahari
di bawah bagian langit yang retak menganga

Untukmu Ayunda;
Biar detak detik duka cita ku genang
di menara kesendirian dari air
meracik punggung senja yang tertikam punggungnya
mengendapkan darah dalam segentong getir
lalu ku reguk sebagai lentera melintasi lautan rasa
membelah jalanan setapak yang bersalju di belantaranya
agar ku temukan arti paling dalam
kesendirian dan ketiadaan hadirmu
(16.09.2010)

Di Ujung Sabit Pasi

Kulihat bulan sabit memucat
ketika gerimis turun merinai pelataran

Bayu masih menari berayun
dingin bernyanyi menghadang bayang
pada reranting telaga

Malam yang jauh
perlahan serpih tertimbun
di bilik sunyi
ketika langit menggusur riuh gemintang

Ucapmu mengingatkanku pada mercusuar
tempat camar dan burung hantu
pernah membenturkan diri

Kata-katamu mengenangku
pada lembah-lembah ngarai
dan dinding-dinding karang berbatu
jalan-jalan setapak melingkar
dalam belantara hutan akasia

Bulan sabit semakin pasi
kabut kian menebal
dan cahya secanting lilin
lamat tersumbat

Namun masih ku kenang ingat
keluhanmu yang menggenang
membangun menara kesendirian dari pasir
dalam derasnya hujan

(12092010)

Akhir Nawala Kasih

Telah lama kupinang sepi
dari sudut-sudut hening dunia paling sunyi
tanpa pamrih menjadi pecundang kerajaan kasih

kusetubuhi rindu membatu di malam-malam nyeri
meniti tapak uraian detak-detik hari
meski gigil dalam pasung impian tak bertepi
kukumpul dawainya menjadi hymne nyanyian hati
kelak jadikan perjamuan di altar suci

namun kau selipkan belati
ketika angin desaukan nadamu ngeri
menghujam karang rindu yang kupatri
lagi
dan lagi
pecah berkali-kali jadi serpih
membuatku telanjang berlumur letih
mengeja dosa sendiri

Telaga Di Ujung Belati

Terjaga dalam malam
setelah kau meninggalkanku
dalam ritual pertikaian seperti biasa

Merupa kata-kata
yang tak lagi berarti apapun

Bagaimana tembikar senja menghantar lelap
ketika kita berucap 'selamatmalam'
lalu meretaskan kesunyian yang kian menebal
dengan pisau di tanganmu

Kita dan mereka
telah meretaki dinding-dinding beningnya hati
hingga menyerpih retaknya oleh belati ego

Segala kepercayaan
telah ku letakkan dalam genggammu

Sebuah alasan
mengapa aku masih bernafas
menghirup sisa cinta kehidupan

Fajarpun datang menyentuh pagiku
dan percaya
dengan membiarkan segala hal yang sama
pasti akan berubah

Katakan padaku
mengapa aku harus berusaha lebih keras
untuk tetap tegak berdiri

Sebab kukira
sayap-sayap kesepian telah merengkuh
mencium serta mengkultuskanku
menjadi salah satu bagiannya

(15092010)

Perjalanan

Biarlah aku tetap menyulam sarang hatimu
di cekungnya mata dengan ratapan gebu yang berdebu
mengeja kesaksian yang memburam
:pengasingan Qais (Majnun)
di puing-puing bangunan belantara pegunungan
pada hamparan ranah jazirah arab

Begitulah dengan berjingkat diam
cinta menikam setiap hela denyut jantungku

Entah berapa jauh lagi putaran musim membeku kelu
dan mengendap dalam telaga
darah yang tetap mengaliri nafas
kekal dalam cawan-cawan menampung kesaksian hijrah
dalam pelarian berikutnya

Hingga perjalanan ini meleleh
dari sketsa lembaran buku hati
dan musim yang bersayap


(11092010)

Gemerisik Angin Lalu

Suara-suara gaduh penuhi ruang kepala
menggenang menabuh genderang
menggelegak merah
tuding menuding cecerkan magma
tersumpal gumpal dalam rongga dada

Ku raba lembut
dengan tangan-tangan halus kegaiban
mencari pekat kusut
sambil ku tendang-tendang lembaran
yang menjegal berserakan

Satu lembaran nyangsang
di awal hujan ketika langit pesakitan berdendang
menggelantung sungsang
menghunus wajah penuh sembelit
dengan prahara yang menunggang

Sementara lembaran lain
tunggang langgang tertiup angin lepas
menuju belantara-belantara semesta nirmala bebas

(08092010)

Serpih Sayap-Sayap Patah

Menitik tetes-tetes darah
membakar pedih hati
memalingkan wajah dari tidur gelisah
dan berlutut di hadapan altar ishtar
sambil menangis memukul-mukul dada
dalam kebingungan

Tiada pidana lebih berat
ketika diri terperangkap
dalam rengkuhan sayapnya
menahan kecamuk batin berkepanjangan
dengan hati merana
disertai keluhuran budi
menopang pilar-pilar telaga asa

Bersusah payah
tak mampu mencekik kesucian cinta
namun ia tetap menjadi hangat baranya
dalam luka yang meradang

Lalu dari kepundannya
merinaikan embun bersama nanah airmata jelaga
menggenang asa batangan pelangi
yang curah dalam pasi
merengkuh piala istana cinta

(07092010)

Ruang Hampa

Seseorang yang tengah terluka hati
tak kan ada yg menjadikannya penawar
Ketika cinta telah tumbuh dan berkembang

Waktu yang berganti hari adalah kerinduan-kerinduan
dan malam-malamnya hanyalah mengulum dingin sepi

Kau berharap ia dapat merubah pikirannya
namun hari-hari tetap saja terus menguap

Ada banyak tanya berputar-putar di kepala
dan menyesaki dada tentang mengapa ia berlalu

Kau melihat wajahnya di tiap kerumunan
mendengar suaranya
namun kau menolaknya dengan angkuh keheningan

Kau katakan dirimu akan mampu
tapi hatimu mengatakan ini salah

Ruang hampa...
Dimana kita belajar tetap hidup tanpa cinta
Seorang diri dalam ruang hampa, berteman keheningan
Ketika ia telah pergi dan kau menjadi bagian dari akhirnya

(ES-25082010)

Serpihan Cermin

Kau terbang
bersama tahta kencanamu
dan menyaksikan hujan menetes dari langit

Setelah membunuh mimpi
yang awalnya kau cari
sambil memecah cermin lain
dan merubah wujudmu

Lalu hanya merenung harap
yang sebenarnya mampu kau raih

Dan mereka
akan mengulum intaian sinis
ketika kau telah mendapatkan dunia

Serta merekalah
yang akan meludahi luka jeritanmu

Ada hal terbaik
yang pernah kau lakukan
dan menjadi milikmu
namun menjadi sesuatu yang telah pergi

(ES-21082010)

Peluh Yang Memerah

Bara air peluhku kering mengerak di pori-pori
yang muntahkan pijar magma ke dada bumi
selepas menggalah sepiring senyum padi
hikmah berpadu tereguk dalam hangat secangkir puisi
di teduh rinai hujan yang bertandang malu-malu

Segala puja-puji asmaMU
atas jalang matahari yang bukakan pintu-pintu langit

(ES-20082010)

Kurasuki NamaMu

Basah lidah mencumbu pelan
mesranya rasa merasuki nama
dan tenggelam
dalam rahim harap yang kutelusur
tiap butir lekuk juntaian punggungnya
di ujung jemari

Mendayakan ketelanjangan diri
untai uraian samudera kasih sayang
dalam remang ruang sunyi

Dan kukatup bibir
dengan puji agung seluruh hati
hingga peluh belulang lepuh
meradangi lelah diri
Hening...

ES-12.08.201

Merah Gerah Yang Pecah

Amarah menggelegak merah
mengabut diam ruang dada
seperti larva perut merapi
menunggu tanah bumi berguncang

Kala kini santun tak kau hatur lagi
dari lempengan bibir
ceracau tak tentu ritma
lidah mencibir diri pada kebiasaan
mengoyak jala ruang jiwa
yang sendiri tersisihkan

Gerah,
merah pekat menghitam geram

Muntahlah sudah bebatuan api
dari panggangan ruang yang diam
paksa ku hentakkan akar bening rasamu terdalam
pecah bergelindingan amarah
menyapu teduh rumah cengkrama
hingga ruah airmata
tersedak merah kau guncangkan wadahnya

Dan di senja ini
biar kulesatkan menembus ruang luar
menuju awan menguntai kata
dari airmata yang terbuncah

Menitipkan pesan di pintu kerajaan malam;
"Ku mohon, biarlah ini menjadi yang terakhir kali,
kerna setan baru saja bertepuk girang."
Tentu penyesalan adalah cermin dari lembaran yang terkoyak

(ES:04082010/17:15)


.

Blues Pasungan

Robekkan sayap-sayap merpati wahai matahari
rebus dan bakar setengah matang
lalu kirim ke ubun-ubun jantung hamparan rerumputan

Letak ia di dedahan pohon-pohon liar
biar ku utus rubah
ataupun musang menjeput kado itu
untukku

(ES:02082010/15:53)

Dan Aku

Aku bukan penyair
ataupun pujangga
tak guna sunyi ku pelintir
hari malah makin getir

Hujanpun masih mengguyur sedu
selama musim dalam ketetapan
sepanjang pucat lorong waktu
:kami ciptakan

Dan api ini padam, basah
nyala mereda, usailah

Tak guna sepi terlalu ku pelintir
dengan lembaran kata-kata
karena aku bukan pujangga
ataupun penyair
hanya jiwa gundah tersisih
terdorong ke tepi

(ES:02082010)

Hujan Dalam Bayang

Terkadang ia terlihat berlalu
tidak dengan pandangannya
seakan tidak ingin tahu
dan tidak memperdulikan apapun yang ia rasakan
dan ketika ia kembali dari pergi menjauh
tak satupun yang ia dapatkan

Ia tak mau tahu
dan mengapa pula ia harus pedulikan
ketika ia telah sendiri
dan tak pernah lagi untuk melihatnya

Menangisi dalam rinai bayangan...

Tentang rasa cinta yang pernah ia tahu
namun keberadaannya yang entah dimana
Tentang seorang yang pernah menjadi miliknya
namun nyata kini ia kembali dalam kesendiriannya

Begitu jelas
dapat terlihat di dalam setiap pandangnya

Namun ia tak mau rasakan
pun tak ingin perdulikan suara hatinya

Ya
mereka yang pernah merasakan
apa yang ada di dalam hati mereka
yang terkoyak oleh sebuah perpisahan

By: Mhd.Yusuf 25 Agustus 2010 jam 6:33