Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)

Dua Sisi

Langit merundung tampak keabuan
:pagi bermuram durja
bersama jantung berdetak keras
mata menangkap pesan yang menembus awan dari kejauhan
namun diri masih menolak untuk percaya
benarkah?
Rentet kalimat menyekat aorta
menggumpal di alur arteri
mungkin akan menginfeksi ke relung jiwa

Dalam selembar kisah
sebagai jamuan altar;
dengan tangan kiri menyvlam uluran gemintang
demi kesetiaan fajar menyingkapkan malam
dan tangan kanan merantai braga
dari muasal nafasku terbentuk fana

Lantas diam meraba gigil
menggantungkan satu lagi episode di udara
membiarkan angin merahimi dilema dalam samsara
berpura-pura mengerti yang akan dirasa
hingga retas mentas di detik kenyataan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar