AKU BERBELASUNGKAWA ATAS KEBOHONGAN YANG KAU DERITA
SERTA KETAKLUKKAN BISU YANG KAU SANGGAH
IBAKU BERCUCURAN DAN MEMBATU KRISTAL
:sia-sia kucoba
MEMBAKAR KELEMAHANMU YANG BERTAHAN
NAMUN INI TELAH MENGUAKKAN SELUBUNG TIRAI DI MATAKU
Berhati-hatilah dalam keheningan malam yang mewujud batu
Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)
Kesekian Kalinya (Untukmu Ayunda)
Ini jiwa mengurai rasa yang terbentang masa
mangasah naluri dalam rahasia dan misteri cinta
susuri bahari menunggang angin yang memisau
kayuh nestapa menitikan buihnya ke tepian
:gugah raga di tanah penuh kelengangan
lalu membangun pualam cinta yang tak jua purna
Setelah kaki beranjak menjemput hasrat akan mimpi
sepi masih berjelaga menyulam gigil puing-puing malam
warnai lazuardi dengan ceceran rindu yang bersarang
di setiap ruas waktu dan ruang
Ini kali semburat senja tak mampu kukanvaskan
sebab langit basah di teluh berlaksa aksara luka
ketika dahaga jiwa menujahkan amarah
lembayungnya menikam dengan mendung
:berlumur jelaga di kabut prahara
Pada setiap lantang jejak surya
pada detak hitungan purnama
pada hati yang bersarang di bibir angin
menampar-nampar rindang kerinduan
mangasah naluri dalam rahasia dan misteri cinta
susuri bahari menunggang angin yang memisau
kayuh nestapa menitikan buihnya ke tepian
:gugah raga di tanah penuh kelengangan
lalu membangun pualam cinta yang tak jua purna
Setelah kaki beranjak menjemput hasrat akan mimpi
sepi masih berjelaga menyulam gigil puing-puing malam
warnai lazuardi dengan ceceran rindu yang bersarang
di setiap ruas waktu dan ruang
Ini kali semburat senja tak mampu kukanvaskan
sebab langit basah di teluh berlaksa aksara luka
ketika dahaga jiwa menujahkan amarah
lembayungnya menikam dengan mendung
:berlumur jelaga di kabut prahara
Pada setiap lantang jejak surya
pada detak hitungan purnama
pada hati yang bersarang di bibir angin
menampar-nampar rindang kerinduan
Kau Mabukkan ku
Cahya bulan sabit
seperti ingin menjelaskan
:di antara alis matamu yang rimbun
ada jurang cekung yang menganga
mungkin titian tak kan pernah tercipta dari bahasa
namun semerbak mabuknya akan anggur pada sebuah musim
membuat kita tak perduli lagi pada kata-kata
seperti ingin menjelaskan
:di antara alis matamu yang rimbun
ada jurang cekung yang menganga
mungkin titian tak kan pernah tercipta dari bahasa
namun semerbak mabuknya akan anggur pada sebuah musim
membuat kita tak perduli lagi pada kata-kata
Langganan:
Postingan (Atom)