Anak sulung kebebasan gigil dibalik pintu
jalanan jadi ranjang menunai mimpi
dengan jantung berkeringat
dan suara menderum gelegar, getir
:tanah memaku dinding-dinding tua purbani
Kawanan rubah memiliki lubang
burung-burung bersarang dinabastala
tapi putra manusia tak punya tempat
untuk sandarkan nyanyian heningnya
Penghuni jumantara bersembunyi
dari balik selubung
dan mendung tebal menenggelamkan
hanya ulurkan suara-suara yang berlompatan
bersama busa dan racun kengerian
Anak kebebasan berjalan sendirian
selemah benang tipis laba-laba
dan ketakutan
dilembah-lembah hantu kematian
Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)
Biar
biar retak putik dari kelopak
biar serpih kembang dari duri
biar gemeretak ranting melulu kelu
biar genang kenang terbakar pengertian
biar tepar surya digelombang bahari
biar berdarah purnama ditelaga perawan
biar memisau sepi terkurung rindu, sendiri
biar serpih kembang dari duri
biar gemeretak ranting melulu kelu
biar genang kenang terbakar pengertian
biar tepar surya digelombang bahari
biar berdarah purnama ditelaga perawan
biar memisau sepi terkurung rindu, sendiri
Berapa Waktu
Berapa duka menguak pengertian
berapa tawa tercerabut tanpa pujian
dirampat ketam sang waktu bagai binatang buruan
berapa tawa tercerabut tanpa pujian
dirampat ketam sang waktu bagai binatang buruan
Langganan:
Postingan (Atom)