Malam terajam dilegam waktu
kelopak-kelopak bunga mekar
dari urat nadi yang terpenggal
seperti rela dengan lambaian lalu
menarik sauh menuju segala gugusan
melayati jazirah dengan sayap-sayap mega
Dan derit detak samsara
mengirim sebuah pembunuhan pada gemintang
:menembus ruang waktu
serpihkan dingin dengan segala tarian
menggalah dinding-dinding malam
merebut kehendak purbani
namun hanya ada ratap dan doa-doa
Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)
Seperti Kita (Yang Pernah Mati)
Bagai bocah bertelanjang dada memanja hujan
berebut mainan putik-putik bunga matahari
sebelum tanda mendung menggelegar badai
:biaskan titian sinar pelangi impian
dengan menyihir candu-candu di tangan
Bicaralah
dan tertawalah semaunya
atau setidaknya marah
saat kuajak kamu ke awan hitam
bubuhi bintang jadikan hiasan legam
Seperti cinta yang tak perlu mimpi-mimpi
seperti janji yang tak butuh berlaksa kata
seperti api yang tak padam oleh air
seperti apa sajalah
ketika sakit hilang puaskan dahaga keinginan
seperti kita yang pernah mati
berebut mainan putik-putik bunga matahari
sebelum tanda mendung menggelegar badai
:biaskan titian sinar pelangi impian
dengan menyihir candu-candu di tangan
Bicaralah
dan tertawalah semaunya
atau setidaknya marah
saat kuajak kamu ke awan hitam
bubuhi bintang jadikan hiasan legam
Seperti cinta yang tak perlu mimpi-mimpi
seperti janji yang tak butuh berlaksa kata
seperti api yang tak padam oleh air
seperti apa sajalah
ketika sakit hilang puaskan dahaga keinginan
seperti kita yang pernah mati
Masihkah (Rin)
Rin,
Masihkah ingat pada tapal senja yang lirih
ketika kita memecah tembok-tembok pengertian
mengiris airmata dan keringat dalam kecupan dikening
serta menanaknya dengan ikatan batin terdalam
Masihkah ada gugur dedaunan menghitung jejak waktu
ketika senyummu menyeka pundakku dari cambukan matahari
ketika wangi tubuhmu menunggu pulangku dari mendulang hari
ketika malam-malam kita genangi dengan aroma gelora kasih
lalu memanja pada gemintang yang tak lelah mengintip
dan semburat purnama mendulang gairah pada jiwa
Lihatlah, rin
Bukankah kita telah membaca ikrar dengan berlaksa aksara hati
meski tepar arungi gemunung serta lembah-lembah
:membelah langit dan samudera
menampar-nampar wajah waktu tetap sadar
memastikan sauh biduk tak sia berlalu
Masihkah ingat pada tapal senja yang lirih
ketika kita memecah tembok-tembok pengertian
mengiris airmata dan keringat dalam kecupan dikening
serta menanaknya dengan ikatan batin terdalam
Masihkah ada gugur dedaunan menghitung jejak waktu
ketika senyummu menyeka pundakku dari cambukan matahari
ketika wangi tubuhmu menunggu pulangku dari mendulang hari
ketika malam-malam kita genangi dengan aroma gelora kasih
lalu memanja pada gemintang yang tak lelah mengintip
dan semburat purnama mendulang gairah pada jiwa
Lihatlah, rin
Bukankah kita telah membaca ikrar dengan berlaksa aksara hati
meski tepar arungi gemunung serta lembah-lembah
:membelah langit dan samudera
menampar-nampar wajah waktu tetap sadar
memastikan sauh biduk tak sia berlalu
Langganan:
Postingan (Atom)