Aku sering tersenyum dalam diri, yang bahkan jauh tersimpan di bilik jisim buruk ini. Tersenyum dengan segala getir kodrat, dan tak seorangpun mungkin tahu betapa ironi menjalani hidup. Aku tersenyum, seakan aku tercipta bukan untuk berbuat lain, selain tersenyum. Namun ‘Maaf’ merupakan kata jitu yang mampu luluh lantakkan, bahkan lukai rasa, memaksa bungkukkan kepala dengan malu dan kagum di depan ruh mulia yang merendahkan diri, dan memohon ampunan dari masa lalu yang pahit dan menggetirkan (Elang Senja)

Kau dan Aku (Satu)

Kau dan aku tercatat antara mereka
di berkahi Tuhan berupa teman
dan orang-orang yang di sayangi
 

Adakah antara seorang mereka
dengan akrab dan bergairah
yang dapat kita minta:
“Dapatkah kau menanggung penderitaanku suatu hari nanti..?
Adakah antara mereka yang tahu bahwa di balik nyanyian diri kita
terdapat sebuah lagu tak dapat di suratkan dan dawai yang bisa di atur

Adakah antara mereka yang ingin mengetahui duka cita dari kebahagiaan,
dan kebahagiaan dari pada duka cita kita..?”


(Muhammad Yusuf: Mentajai-03.05.2006)

Aku Tak Sendiri, Sebab Sepi Bersamaku

Kesunyian yang di bangun dari puing-puing tumpukan batu
berlumut di dinding-dinding malam
mengendap pada waktu yang terus menanjak
menjulang hitungi jejak dalam isyarat perjalanan panjang

Gemintang tak tumbuh pada langit kerontang
sedang detak-detik telah lenyap ke balik bumi
hanya ada unggas-unggas malam saling bermesraan

Terbaca di dada bayu
kebisuan pekat senja merah dan hujan masih basah tertahan
lalu menjadi saksi jalan-jalan berputar
seperti kata-kata
pada malam-malam meregang gigil dan menciut


Tapi surya tetap membara bumi
ketika mayat-mayat tegak dari kematiannya


Semua dalam kesunyian ini
tersusun dari puing reruntuhan dan kebisuan pintu-pintu
lorong-lorong gang dan ruang tak berujung


Kesunyian menghitam pada patung dan menjilati kalimat gelap
tapi senantiasa di baca masa dengan matanya gemeretak
memilihku menjadi salah satu dari temannya

(11 Oktober 2010 jam 15:37)

Kidung Bencana (Wasior, Merapi dan Mentawai)


Tanpa daya badai meniup dedaunan gugur dari ranting-ranting kering, merubah waktu menjadi bait-bait syair kembara absurditas batangan hari kelam, menyingkap selimut kabut di jalanan setapak menuju misteri detik-detak kesunyian kisah nyata dan legenda, dengan gemericik genangan rhyme kidung arih lirih dalam asa ruang dada jisim yang fana.

Aku ilalang antara kumpulan bunga ambarukma
di sabana berembun abu dan gemeretak gejolak bah
jilati raut surya bermagut kabut
pilin dentang kelam rembulan emas meringkuk
mencari sejengkal mimpi ishtar
menunggu tak kuasa padu rasa kian laju
menunggu diam dalam gugu termangu

Wajah-wajah mengerang aduh usai badai membantai, kehilangan harta dan separuh jiwa bergelimpangan tanpa nisan, antara puing-puing berserakan di bawah kelepak burung-burung bangkai menyalang tubuh ringkih membusung kelaparan dan genangan air mata.

Oh Tuhan
kasih sayangMu dalam ujian tanpa ijazah
di jiwa kami yang masih kering dan gelisah
dari lumpur hati dengan debu-debu kenistaan
mengapa tak KAU pindahkan bencana semesta
ke kota tempat segala macam murka

Angin datang dari penjuru mengetuk-ketuk hati luruh sebab runut dalam ruah doa-doa dan kata sederhana untuk mengurai misteri dan rahasia hidup.Dari renung gemunung dan lembah-lembah mengucap "Selamat jalan saudaraku, Tuhan mengasihimu".

30 Oktober 2010 jam 19:35